Awal bulan
ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar
dengan kata-kata kasar dan berkata, “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras
kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu
itu !”.
Dengan
berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan
berkata, “Maafkan saya Bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”.
Setelah
mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa
lagi. Sang ibu tersebut kemudian duduk di atas lantai, menggulung celananya dan
memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.
Sang ibu
tersebut menghapus air mata dan berkata, “Saya menderita rematik stadium
terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku
sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja di
sawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.” Selama ini dia
tidak memberi tahu anaknya tentang apa yang dilakukannya, karena takut melukai
harga diri anaknya.
Ia bercerita
kepada ibu pengawas bahwa setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan
bantuan tongkat si ibu pergi kekampung lain untuk mengemis. Sampai hari sudah
gelap pelan-pelan ia kembali kekampungnya sendiri. Sampai pada awal bulan semua
beras yang terkumpul untuk diserahkan ke sekolah.
Pada saat
sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata pengawas itupun mulai mengalir,
kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata, “Bu, sekarang saya
akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk
keluarga ibu.”
Sang ibu
buru-buru menolak dan berkata, “Jangan bu, kalau anakku tahu ibunya pergi
mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan
harga dirinya dan akan
mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas,
tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”
Akhirnya
masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah
membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun.
Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi
Qing Hua dengan nilai 627 point.
Di hari
perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk
di atas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang
mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih
aneh lagi di sana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut
akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras
demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah
pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata, “Inilah
sang ibu dalam cerita tadi.” Dan ia mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat
luar biasa untuk naik ke atas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan
ragu-ragu melihat ke belakang dan melihat gurunya menuntun seorang ibu yang
ternyata adalah mamanya yang berjalan menuju mimbar. Sang ibu dan sang anak pun
saling bertatapan. Pandangan mamanya sangat hangat dan lembut kepada anaknya,
kemudian sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh
Mamaku!!”
Pepatah
mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang zaman dan sepanjang kenangan.”
Inilah
kasih seorang
mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari
sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal
lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagiaan serta sukses di
masa depannya. (jampitoe.wordpres.com/fw.mnrdy.mrtnz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar